About

Minggu, 13 Oktober 2019

Enam Cara Meningkatkan Motivasi di Pagi Hari

 
Foto: time.com
Motivasi adalah satu kata sederhana yang sulit diterapkan setiap harinya. Masih banyak dari kita yang susah untuk memiliki motivasi. Padahal, motivasi dapat dilakukan dengan mudah.

Sebelumnya, mari kita definisikan dahulu apa arti dari kata motivasi. Menurut KBBI, Motivasi adalah usaha yang membuat seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya. Hal ini terdengar sederhana. Namun, di antara kita masih saja memiliki masalah dengan motivasi, seperti motivasi itu sebuah keterampilan khusus yang hanya dilakukan oleh orang-orang langka.

Jadi bagaimana cara menemukan motivasi? Bagaimana kita menjadi bersemangat dalam melakukan pekerjaan / kegiatan tertentu?

Di pagi hari kita membutuhkan kondisi pikiran dan tubuh yang sehat. Rutinitas pagi yang baik membuat kita siap dan bersemangat untuk menjalani kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu.

Dikutip dari Cheat Sheet for Life, lakukan enam rutinitas ini saat pagi hari agar kamu tak lagi memiliki masalah dengan motivasi.

1. Bangun Tepat Waktu
Foto: bnmc.net

Mari mulai membiasakan diri untuk bangun di pagi hari, setidaknya 2 jam sebelum pergi meninggalkan rumah atau mulai beraktifitas. Bangun lebih awal akan berdampak besar pada produktivitas kamu.
Hal ini akan membuat kamu cukup waktu dalam menyiapkan mental dan fisik serta melakukan ritual pagi yaitu mengirim pesan ke pikiran bahwa inilah saatnya untuk menghangatkan mesin dan mulai bekerja.


2. Rehidrasi
Foto: freepik.com

Minum air putih yang cukup harus menjadi bagian dari rutinitas pagi kamu. Setelah istirahat semalaman tanpa air, tubuh akan mengalami dehidrasi. Jadi, bagian terpenting di pagi hari adalah minum air yang cukup untuk memulihkan diri. Jika kamu, merasa tidak enak di pagi hari seperti pusing,  sakit kepala, mulut dan bibir kering. Itu menandakan kamu terkena gejala dehidrasi ringan.
Kedengarannya asing, bukan? Tidak heran jika kamu kurang motivasi. Biasakan minum 2 - 4 gelas air setelah bangun tidur dan rasakan bagaimana tubuh kamu akan membaik.
Untuk kamu yang benar-benar kesulitan minum air putih, cobalah membuat infused water atau air detox rasa, cara sehat untuk kamu tetap terhidrasi.

3. Lakukan peregangan tubuh
Foto: psychologies.ru

Selayaknya gerakan olahraga, peregangan tubuh adalah kebiasaan yang baik untuk dimasukkan dalam rutinitas pagi hari. Selama tidur tubuh kamu tidak banyak bergerak, bahkan terasa berat dan mati rasa. Latihan dan peregangan ringan akan meningkatkan sirkulasi darah, mengaktifkan kinerja tubuh dan otak, serta meningkatkan metabolisme dan melepaskan endorfin.
Jika Anda tidak memiliki kebiasaan berolahraga, itu akan lebih baik. Setidaknya lakukan peregangan ringan, seperti berlari selama 30 detik atau melompat-lompat. Hal ini juga penting untuk dilakukan karena dapat menghangatkan tubuh di pagi hari dan dapat mengalirkan darah segar ke otak. Rasakan manfaatnya, yaitu kamu bisa lebih berkonsentrasi lagi dalam bekerja.

4. Membuat Catatan
Foto: learningscientists.org

Banyak dari kita yang malas untuk membuat catatan tentang hal – hal yang akan dilakukan setiap harinya. Padahal, cara ini dapat membantu kita menjadi disiplin dan tidak lupa dengan goals harian kita.
Cobalah untuk menulis catatan kegiatan di buku kerjamu tentang hal yang akan kamu lakukan di hari tsb. Jadikan itu rutinitas setiap pagi selama 15 menit.
Selain menulis catatan kegiatan, tulis juga semua pikiran dan perasaan kamu. Tulislah apapun yang ada di pikiran, baik ataupun buruk, di selembar kertas atau buku harian.
Ada banyak manfaat menulis di pagi hari, yaitu mengaktifkan otak, mengatur pikiran, menjernihkan pikiran, dan meningkatkan motivasi. Nantinya akan membuatmu fokus pada apa yang akan dikerjakan dan membuatmu lebih semangat lagi untuk memulai hari.

5. Jangan lupa sarapan
Foto: pinterest.com

Sarapan pagi adalah hal mutlak harus dilakukan karena kamu harus mengisi tubuh dan pikiran agar selalu berada dalam kondisi prima. Tidak ada alasan, kamu harus membiasakan diri sarapan sehat dan bergizi. Dengan cara ini, kamu akan memiliki lebih banyak energi dan daya pikir kamu akan bekerja lebih baik dari sebelumnya.
Telur adalah pilihan sarapan yang enak dan mudah untuk dikonsumsi. Atau jika kamu lebih menyukai jenis makanan yang manis, coba camilan oat yang penuh dengan nutrisi sehat untuk mendapatkan banyak energi.

6. Tetaplah Berpikir Positif
Foto: pexels.com

Berpikirlah positif dan katakan itu kepada diri kamu sendiri. Tetaplah berpikir positif, walaupun kamu tidak percaya pada kekuatan tsb. Biasakan mengatakan kalimat ini sebelum kamu meninggalkan rumah :
“Saya orang yang cerdas, kreatif, dan kompeten. Hari ini saya akan melakukan yang terbaik dan itu sudah cukup.”

Ini akan memberikan kepercayaan diri untuk menangani tugas-tugas sulit dan mengingatkan kamu untuk tetap tenang jika melakukan sedikit kesalahan. Ingat, tidak ada yang sempurna, bisa saja terjadi sesuatu di luar kehendak kita. Lebih baik kita memperbaiki kesalahan tersebut, daripadi menyesali diri karena tidak melakukannya dengan maksimal.

Padukan semua rutinitas pagi ini dan rasakan motivasi kamu akan meningkat dari hari ke hari. Jika, kamu masih terbangun dengan perasaan gelisah, jengkel, atau cemas. Cobalah latihan yoga selama tiga menit untuk rileks dan merasa bahagia. Ingat, masa depan kamu diciptakan dari apa yang kamu lakukan hari ini bukan besok. Jadi, tetaplah jaga motivasimu ya!



Jumat, 11 Oktober 2019

Sebuah Rasa dari Ruang Kelas

Foto: onedio.com

Di suatu pagi yang indah, terdapat sebuah kampus hijau bernama Politeknik Negeri Jakarta. Di sana, terdengar kicauan burung menyanyikan lagu Everything I Do milik Bryan Adams. Tak berapa lama kemudian terdengar suara yang berasal dari ruang kelas. Perlahan diketahui sumber suara berasal dari percakapan antara bangku dan lantai. Beberapa perabot lainnya hanya ikut mendengarkan percakapan mereka.
“Tak terasa sudah pukul tujuh saja ya kawan, apakah kalian sudah bersiap diri untuk menghadapi tingkah – tingkah insan bumi?” tanya bangku kepada semua teman-temannya.
“Sudah bang, semangat yak. Semoga hari ini, bokong yang akan menduduki dirimu lebih ringan dari sebelumnya hahaha,” ucap lantai dengan nada sedikit meledek.
“Inginku juga seperti itu ai, tapi apadaya, aku tidak bisa memilih tuan yang akan menduduki diriku. Kau juga semangat ya. Semoga hari ini, insan bumi sudah membersihkan alas kakinya. Jadi kalaupun dirimu diinjak – injak, kau masih cukup bersih untuk dipijak kembali esok hari,” balas bangku dengan penuh semangat.
Lantai tak menjawab dan tak juga berekpsresi, kekhawatiran tiba – tiba bergejolak dalam dirinya. Setelah ucapan yang dilontarkan oleh bangku, dia teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Seorang dara, menginjak-injak dirinya dengan alas kaki penuh pasir dan berbau tidak sedap. Sepertinya, dara itu telah menginjak kotoran kucing. Ish, menggelikan. Kasihan lantai, coba saja dia berteriak, dia pasti sudah menghina-hina dara tsb.
Sama seperti lantai, bangku juga memikirkan bagaimana nasibnya hari ini. Ia berharap, hari ini dan seterusnya dia akan tetap menjadi sebuah bangku yang utuh. Dia rela dirinya ditindih dengan bokong insan bumi selama bertahun – tahun. Asalkan dia tetap utuh. Ya, utuh sebagaimana bangku biasanya, ada kursi dengan meja kecil di bagian depan.
Dia teringat kejadian dua hari sebelumnya, temannya, kita sebut saja bangku nomor 10 sudah harus angkat kaki dari ruang kelas. Padahal umurnya masih cukup muda untuk berangkat ke gudang. Ia baru berumur 2 tahun. Ia dipindahkan karena sudah tak layak menjadi bangku. Keadaanya memprihatinkan, dia terpisah dari meja mungilnya. Hal itu terjadi karena kecerobohan insan bumi yang duduk di meja mungil tsb sehingga menyebabkan patahan di antara gabungan meja dan kursi. Menyedihkan bukan?
Keheningan sempat terjadi beberapa saat, yang masih terdengar hanyalah suara kicauan burung, yang kini menyanyikan lagu A Whole New World milik Disney. Hingga akhirnya, terdengar suara ting tong ting tong begitu kerasnya. Suara itu muncul dari jam dinding yang ada di ruangan kelas. Pertanda bahwa saat ini sudah pukul 8 tepat, tak lama lagi insan bumi akan memijakkan diri ke ruang kelas.
Semua perabot sudah bersiap diri, sembari berdoa semoga dirinya bisa melalui hari ini dengan selamat tanpa kekurangan satu bagianpun.
Satu per satu insan bumi masuk ke ruang kelas, dengan brutalnya insan ini menarik dan mendorong – dorong bangku secara kasar. Tak hanya bangku yang merasa sakit, lantaipun juga ikut kesakitan. Bagaimana tidak? Insan ini menarik bangku secara kasar, mereka hanya menarik tidak mengangkat sehingga menimbulkan baretan luka di lantai. Untung saja lantainya tidak berdarah kalau berdarah bisa pingsan mereka.
Tak hanya itu, insan bumi juga menodai papan tulis yang putih dan suci. Ah tidak, apakah mereka tidak sadar? Mereka menodai papan dengan spidol permanent, astaga bodoh kali insan ini. Apakah mereka tidak bisa membaca?
Tak henti – hentinya sang spidol meminta maaf kepada papan tulis ketika cairan hitam dari tubuhnya membasahi badan papan tulis yang putih mulus itu. Ia juga tak tahu harus berbuat apa, jikalau dia bisa teriak, ia akan berteriak, “AKU INI SPIDOL PERMANENT BODOH!” Tapi apa daya, si spidol hanya bisa mencaci di dalam hati.
Di lain hal, meja besar juga merasakan kesulitan. Ia harus menampung beban yang berat. Biasanya meja hanya ditindih oleh laptop, proyektok, ataupun gelas. Tetapi, berbeda dengan hari ini, kali ini meja besar dibebani oleh pungung insan. Ya, mereka memanfaatkan waktu luang untuk tidur-tiduran di atas meja sambil cekak – cekik dengan teman sebayanya. Ingin rasanya meja menangis, tetapi tidak bisa karena ia tidak mempunyai mata. Ingin juga rasanya meja mencaci, tetapi tak bisa karena ia juga tidak mempunyai mulut. Pada akhirnya dia hanya mengutuk di dalam hati, “Hey insan, bisakah kamu memperlakukan diriku sebagaimana fungsi dan tujuan awal yang diciptakan Tuhanku? Jadi, tolong hargailah diriku.”
Kini, lantai ikut merintih kesakitan. Bagaimana tidak? Insan bumi berkali-kali menginjak-injak lantai secara keras. Hal itu terjadi karena sang insan merasa kesal setelah kalah bermain game Mobile Legend. Game yang sedang digandrungi ini sering menjadi pemicu kekesalan insan bumi. Padahal kesalnya dengan siapa, yang kena imbasnya siapa.
Ada lagi, selembar kertas mengerang kasakitan karena terpisah dari induknya. Tidak  hanya terpisah, tetapi sang kertas juga diremas oleh insan bumi. Apa salah kertas ini, hey insan bumi? Setelah kau tusuk ia dengan pena, kini kau membuangnya begitu saja. Dia itu tipis dan rapuh, tega kali kau dengannya. Ini baru contoh kecilnya saja. Biasanya insan bumi juga mencabik-mencabik dan menggunting-gunting kertas seenaknya saja.
Kurang lebih, seperti itulah rasa yang terjadi di dalam ruang kelas. Diharapkan kepada insan bumi yang membaca ataupun mendengar cerita ini bisa lebih sadar kembali tentang keberadaan mereka. Bukan hanya sadar melainkan bisa merawat dan mengasihi barang – barang tsb.
Andai saja ada Hak Asasi Barang, pasti barang-barang ini akan sangat senang dan bisa menuntut hak-haknya jika tidak diperlakukan dengan baik. Tidak muluk-muluk, haknya hanya berisi bahwa setiap barang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Sehingga tak ada lagi barang yang disiksa, dirusak, apalagi dibuang.
Apa perlu barang-barang ini berdemo terlebih dahulu supaya memiliki kekuatan hukum yang jelas? Sehingga jikalau sewaktu-waktu ada barang yang diperlakukan tidak adil oleh insan bumi, mereka bisa menuntutnya. Bagaimana menurutmu, apakah kau setuju dengan ide itu?

Rabu, 09 Oktober 2019

Naskah Drama: Ananiyah

Ananiyah adalah sikap hidup yang terlalu mementingkan diri sendiri bahkan jika perlu mengorbankan kepentingan orang lain. Foto: pinterest.ca


Renna, Debby dan Salma. Mereka adalah tiga orang sahabat yang selalu bersama. Hingga suatu hari mereka dibentuk menjadi satu kelompok untuk mengerjakan tugas matematika.

Salma : “Untung aku satu kelompok sama kalian kan rumah kita berdekatan.”
Debby : “Iya, Alhamdulillah ya. Oh iya, mengerjakan tugasnya dirumah siapa nih?”
Renna : “Rumah aku aja kan teras rumah aku luas.”
Debby : “Oh yaudah. Jam berapa?”
Salma : “Pulang sekolah saja”
Ren&Deb : “Oke”

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Debby dan Salma pergi kerumah Renna
*setelah dirumah Renna*

Salma : “Kita bagi-bagi tugas ya. Debby mengerjakan soal nomor 1-10, Renna mengerjakan soal 11-20, dan aku sisanya.”
Debby : “Oh oke deh”

*setelah beberapa menit*

Debby : “Duh gimana nih cara nomor 8, rumusnya gak ada di buku catatan”
Salma : “Di buku cetak juga engga ada”
Renna : “Coba aku lihat. Ya Allah, Debby, Renna, soal ini udah pernah aku pelajarin di tempat les, jadi kita pakai rumus ini.”
Debby : “Oh iya ya, maaf aku kan gak tau.”
Renna : “Makanya belajar dong biar tau”

Setelah menyelesaikan 30 soal matematika Debby & Salma pun berpamitan untuk pulang.

Keesokan harinya, setelah bel berbunyi semua siswa masuk ke kelas masing-masing termasuk Renna, Salma, dan Debby. Tak lama kemudian, Bu Widya guru matematika kami pun masuk ke kelas.

Bu Widya : “Ayo anak-anak kumpulkan tugas yang kemarin Ibu berikan.”

Satu per satu pun murid mengumpulkan tugas & setelah dilihat dan dinilai ternyata kelompok Renna yang mendapatkan nilai 100

Bu Widya : “Wah hebat, di kelas ini ada yang mendapatkan nilai 100”
Siti : “Memang siapa, Bu?”
Bu Widya : “Kelompok Salma, Debby, dan Renna.”
Siti : “Wah hebat.”
Renna            : “Yailah nilai ini bagus itukan karena aku, secara aku kan pintar matematika. Coba tidak ada aku di kelompok itu nilai ini tidak akan sempurna.”
Salma : “Kan ini tugas kelompok? Kenapa kamu merasa hanya kamu yang mengerjakan semua soal ini?”
Renna            : “Memang benar kan, kalau aku tidak kasih tau rumus yang mudah
pasti kalian sudah bingungkan”
Salma : “Apa kamu bilang?”
Debby : “Udah, Sal, nanti di marahin Bu Widya lho.”

Bel istirahat berbunyi Salma dan Debby pun akhirnya menjaga jarak dengan Renna karena merasa tersisihkan Renna pun menyendiri di kelas. Karena merasa kasihan Siti menemani Renna yang duduk sendirian.

Siti : “Kamu kenapa Ren?”
Renna            : “Aku sedih Salma dan Debby menjauh dari aku”
Siti : “Lagian sih tadi kamu ngomongnya gitu. Udah minta maaf belum?”
Renna            : “Belum, memang mereka mau maafin aku?”          
Siti : “Minta maaf dulu sana, sesama manusia kan harus saling memaafkan”

Renna pun mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf kepada Debby dan Salma

Renna            : “Debby, Salma, aku minta maaf ya tadi berbicara seperti itu sama kalian”
Debby : “Iya aku udah maafin kamu kok”
Renna : “Kalau Salma?”
Salma : “Jawaban aku sama seperti Debby, tapi kamu janji ya jangan ngomong kayak gitu lagi”
Renna            : “Oke, makasih ya kalian. Aku sayang kalian.”

Akhirnya mereka bersama lagi dan kini sifat Ananiyah Renna menghilang, persahabatan mereka pun semakin kompak.


Ibuku, Inspirasiku.


insider.com

Jika  ditanya  siapa  sosok  yang  paling  menginspirasi  untuk  diriku, akan  ku jawab  dengan  lantang bahwa sosok itu adalah Ibuku. Bagaimana tidak? Aku dilahirkan dari seorang Ibu
tunggal  yang  sangat  mencintaiku. Dia  adalah sosok yang sangat  menginspirasi  untukku.

Di awal tahun 2000-an, Ibu dan Ayahku berpisah, hal itu menjadi pukulan yang sangat besar untukku, Ibukku, serta keluarga dari Ibuku. Ayah pergi meninggalkan kami dan memilih untuk melanjutkan hidup tanpa aku dan Ibu.
Butuh waktu yang cukup lama untuk Ibuku bangkit dari keterpurukan itu. Di  akhir   tahun   2002 Ibuku berhasil untuk bangkit dan akan membuktikan bahwa dia mampu menghidupku seorang diri.
Saat  itu  juga, Ibu  mengatakan  padaku  untuk  tidak  dendam  kepada   Ayah, aku  harus  tetap hormat   karena   apapun  yang  terjadi  ia  tetap  Ayahku. Setelah Ibu  mengatakan  hal  itu, aku  semakin kagum dengan sosoknya. Betapa mulia dan tulusnya hati Ibuku. Dia tak menaruh dendam atau benci kepada Ayah yang sudah menyakitinya.
Tetapi kenyataannya, hal itu menjadi bahan empuk untuk digosipkan oleh tetanggaku. Mereka   mengatakan, “Apakah bisa seorang Ibu tunggal  menyekolahkan  anaknya  sampai  tinggi? Apakah seorang Ibu tunggal mampu menghidupi anaknya seorang diri?”
Saat  itu  rasanya  aku  ingin  menjawab, “Kumohon, urusi saja hidup kalian. Sudah cukup Ibuku mengalami  sakit  hati ketika ditinggalkan  oleh  Ayahku. Dan  jangan  lagi  kalian  menambah  sakit  hati Ibuku dengan ucapan-ucapan kalian.”
Tetapi, Ibu menahanku dan mengatakan, “Sudahlah Nak, tak perlu kamu balas lagi ucapan mereka. Sekarang, yang terpenting kamu harus sukses, angkat derajat Mama. Agar kita tidak diremehkan lagi.” Kata-kata itu terus tertanam dan menjadi motivasi untukku. Aku pun ikut berjuang bersama Ibu untuk memperbaiki kehidupan kami.
Beberapa tahun setelah itu, aku mampu membuktikan bahwa ucapan yang dilontarkan oleh tetanggaku itu salah. Ibuku  bisa  mendidik  dan  menyekolahkanku  sampai  ke  level  tertinggi.


Buktinya ketika aku lulus SD, aku memperoleh nilai sempurna untuk Ujian Nasional Matematika, yaitu 100 dan ketika aku lulus di SMK, aku memperoleh gelar siswa terbaik di jurusanku. Dan kini, aku mengenyam pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Depok, bukankah hal ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa seorang Ibu tunggal juga bisa mendidik anaknya dengan baik?
Mungkin hal itu terdengar cukup sombong dan angkuh bagi kalian yang membacanya. Tetapi, dari hal ini aku ingin membuktikan bahwa menjadi atau memiliki Ibu tunggal itu bukanlah sesuatu yang buruk atau aib untuk keluarga. Hal seperti ini, seharusnya bisa menjadi motivasi untuk tetap melanjutkan hidup dengan cara yang positif.
Sekali lagi, jangan  pernah  meremehkan  seorang  Ibu  tunggal. Kenapa? Karena  Ibu  tunggal  itu adalah sosok yang hebat. Seperti  Ibuku, dia harus  mampu  berperan  ganda  menjadi  sosok  Ayah yang tangguh dan tegas sekaligus menjadi Ibu yang lembut dan penuh kasih sayang untuk anaknya. Dan  juga, dia harus bisa menyeimbangkan keperluan untuk anaknya  (baik  keperluan  di sekolah maupun keperluan di rumah)  serta keperluan untuk perkerjaannya. Apakah kalian sependapat denganku?
Jadi sejauh ini, sebagian besar keberhasilanku dicapai berkat dukungan dan kasih sayang dari seorang Ibu. Dia menginspirasiku untuk tetap berbuat baik dan  tidak  menaruh  rasa  benci  kepada orang  lain. Ibu  selalu  mendukungku  sekalipun  itu  dari  titik  terendah  dalam  hidupku. Aku berharap suatu saat nanti bisa mewarisi sifat yang dimiliki Ibuku, yaitu semangat dalam menjalani kehidupan dan selalu berpandangan positif terhadap suatu hal.

Punya Sifat Ambisius, Baik atau Buruk?


Sifat ambisius sering dikonotasikan menjadi suatu hal yang negatif untuk sebagian masyarakat. Padahal, ambisius dapat membuat seseorang menjadi fokus dengan tujuan yang ingin dicapai. Foto/freepik.com

Kalian tentu pernah mendengar kata “Ambisi atau ambisius”. Tetapi, apakah kalian tahu arti dari kata tersebut?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ambisi adalah keinginan, hasrat, nafsu yang besar untuk memperoleh sesuatu (seperti pangkat, kedudukan). Sedangkan, pengertian ambisius dalam KBBI adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu. Jadi, ambisius merupakan kata sifat dari ambisi.
Dari pengertian ini dapat kita ketahui bahwa ambisius itu lekat dalam sifat pribadi seseorang. Yang sangat disayang adalah kata ambisi/ambisius ini sering dikonotasikan negatif oleh sebagian orang. Contohnya, kalian pasti pernah mendengar kritikan seperti, “Ngambis banget si lo,” atau “Dia terlalu ambisius bikin ga nyaman aja.”
Kritikan itu dilontarkan karena si lawan bicaranya menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Padahal, ambisi itu tak selalu berarti negatif. Ambisi juga dapat diartikan sebagai suatu hal yang positif, kalau digunakan untuk memotivasi diri dalam mencapai sesuatu yang diinginkan.
Hal itu juga diungkapkan oleh Iga Massardi, musisi yang juga vokalis dan gitaris dari band Barasuara ketika mengisi salah satu sesi IdeaFest 2019, Sabtu (5/10).
“Ambisi itu penting. Maksud dari ambisi di sini sebagai alat yang diperlukan untuk mencapai goals tertentu. Karena, ambisi ini nantinya akan lahir menjadi eksekusi – eksekusi tertentu dalam mencapai goals itu,” ungkap Iga.
Foto: Renna Yavin
Iga mencontohkan hal itu yang ada di dalam dirinya, “Contohnya, gw ingin membuat band, dengan sound seperti ini dan performance seperti ini. Jadi, dari situlah gw punya ambisi tertentu dan juga goals tertentu. Walaupun belum tahu kapan goalsnya akan tercapai. Tapi, I keep doing it!”­­ tegasnya.

Tulisan ini sudah dimuat di Kanal Sindo: Punya Sifat Ambisius, Baik atau Buruk?

Lalu, bagaimanakah cara untuk mengontrol ambisi menjadi suatu hal yang positif dalam mencapai tujuan hidup yang besar?
1.      Mulailah pada tahap penetapan tujuan.
Pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Hal ini penting dilakukan agar kalian dapat fokus terhadap target yang ingin dicapai. Tetapi yang perlu diingat, betapapun kerja keras yang dilakukan, terkadang ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Hal ini biasanya terjadi karena faktor eksternal seperti kesehatan pribadi atau ekonomi yang sepenuhnya di luar kemampuan. Dari sinilah kalian harus belajar untuk menerima kekurang yang ada. Akan lebih baik jika kalian melanjutkan target yang sebelumnya tertunda daripada memaksakan diri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tsb.
2.      Berkomitmen sepenuh hati untuk mencapai tujuan Anda
Setelah menetapkan tujuan, kalian harus memiliki komitmen yang kuat. Selain itu juga, tidak boleh setengah hati dalam mencapai tujuan. Bisa – bisa nanti ketika dihadapkan dengan rintangan pertama kalian akan langsung menyerah dan akhirnya tidak bisa mencapai tujuan tsb. Jika kalian serius ingin sukses, kalian perlu membuat komitmen pada diri sendiri untuk melihat tujuan sampai pada titik akhir.
3.      Berhentilah mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang lain
Seperti yang sebelumnya dibahas, orang sering memberikan kritik ketika kalian melakukan suatu hal lebih keras daripada dirinya. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan dan keinginan yang berbeda – beda sehingga cara yang dilakukan untuk mencapainya pun berbeda. Jadi, yang harus kalian lakukan adalah menerima dan hanya mendengarkan kritik membangun untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
4.      Bersyukur dan Apresiasi diri setelah mencapai target tertentu
Yang terakhir dan yang paling terpenting adalah harus selalu bersyukur dan mengapresiasikan hal – hal kecil yang telah dicapai. Karena dengan cara seperti inilah kalian bisa menyelamatkan diri dari ego atau rasa penyesalan akibat hasil yang tidak memuaskan.

Dari hal ini dapat dilihat bahwa ambisi itu perlu untuk menjaga motivasi diri dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Ambisi itu digunakan supaya kita bisa fokus untuk terus bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.
Jadi, sah - sah aja jika kalian memiliki ambisi dan keinginan yang besar selama dilakukan dengan cara – cara yang positif. Bukan sebaliknya, menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu. Justru nanti orang akan berpikir negatif pada diri kita.


Rendahnya Minat Membaca Buku di Kalangan Anak Muda

weheartit.com


Buku adalah jendela dunia, karena itu, siapa yang suka membaca buku pasti memiliki pengetahuan yang sangat luas, itulah generasi yang diimpikan untuk menjadi penerus bangsa ini. Tetapi, pernyataan itu tak sebanding dengan realitanya.
Dikutip dari data United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca.
Untuk melihat realitanya secara langsung, pengamatan dan wawancara secara langsung di SMK Perintis Depok, Zoe library café, dan Perpustakaan Universitas Indonesia.
Minat membaca buku di SMK Perintis Depok, dari 500 siswa per harinya hanya 10 - 15 siswa yang berkunjung ke perpustakaan.
Hal itu diungkapkan oleh Lili, selaku petugas perpus di SMK Perintis Depok, “Anak-anak datang ke perpus di saat tertentu aja, seperti saat mau Ujian Nasional mereka cari buku SPM untuk belajar materi ujian atau cari bahan referensi buat laporan Praktik Kerja Lapangan. Kalau yang tiap hari rutin ke perpus mah jarang,” ungkapnya.
“Padahal kita sudah menyediakan fasilitas yang nyaman di perpus, seperti AC dan wifi, tetap saja jarang yang berminat untuk datang dan membaca buku di perpus,” keluhnya
Lili juga berpendapat bahwa latar belakang siswa malas untuk datang ke perpustakaan karena di zaman modern ini, siswa lebih memilih mencari materi pelajaran di internet daripada mencari referensi materi di buku. Hal itulah yang menjadi dasar rendahnya minat membaca buku di perpus.
Di lain hal, pengunjung di Perpustakaan UI per harinya kurang lebih mencapai 300 orang baik pengunjung dari mahasiswa UI itu sendiri maupun dari non-UI yang notabennya mahasiswa di luar UI atau pelajar SMA. Rata – rata pengunjung yang datang ke Perpustakaan UI untuk membaca buku, diskusi, mengerjakan tugas, dan ada juga yang mencari literatur untuk Tugas Akhir.
Fakhri selaku staff layanan di Perpustakaan UI mengungkapan, “Sepenglihatan saya, minat membaca mahasiswa cukup tinggi karena Perpustakaan UI ini termasuk perpustakaan universitas di mana pengguna yang datang adalah mahasiswa dan mereka yang datang ke perpustakaan memang bertujuan untuk membaca atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan bahan bacaan.”
Fakhri menambahkan bahwa minat membaca itu harus timbul dari diri sendiri, yaitu adanya kemauan dan kebiasaan dalam membaca buku.
Hal itu juga diungkapkan oleh Ganda, selaku orang tua yang berada di Zoe Library Café. Dia mengatakan selain minat membaca harus ditumbuhkan dari diri sendiri, peran orang tua juga penting untuk menciptakan budaya membaca pada anak. Dimulai mengajarkan anak untuk membaca setiap hari sehingga sang anak terbiasa untuk membaca.
“Orang tua itu sebagai guru pertama dalam mengajarkan anak untuk membaca. Kebanyakan orang tua hanya mengajarkan anaknya agar bisa membaca saja. Tetapi mereka tidak menanamkan minat anak dalam membaca,” ungkapnya.
“Padahal buku itu jendela dunia. Kita bisa menjelajahi dunia ini hanya dengan membaca buku. Contohnya, kita membaca buku Max Havelaar, karena membaca buku itu kita jadi tahu bahwa di zaman kolonial, Indonesia diperlakukan secara tidak adil oleh Belanda. Begitu banyak manfaat yang kita dapat dengan cara membaca,” tambahnya.
Selain orang tua, tentunya peran pemerintah, para pendidik, LSM, pustakawan, dan masyarakat juga penting dalam meningkatkan minat membaca di kalangan anak muda yang akan menjadi penerus bangsa. Semuanya harus bersinergi dalam meningkatkan minat membaca di Indonesia khususnya di kalangan anak muda.